Rabu, 29 Oktober 2008

Sufi Jawa, Sang Mandor Klungsu

Kaum bangsawan di Belanda menjulukinya Pangeran dari Tanah Jawa. Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak R.A. Kartini, selama 29 tahun, sejak 1897, mengembara ke Eropa. Ia bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan di sana. Mahasiswa Universitas Leiden itu kemudian menjadi wartawan perang Indonesia pertama pada Perang Dunia I.

Sosrokartono (1877-1952) adalah adik kandung Boesono. Keduanya adalah kakak RA Kartini, pahlawan emansipasi wanita yang setiap tanggal 21 April selalu dirayakan di seluruh pelosok Indonesia. Mereka adalah anak Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Samingoen Sosroningrat untuk periode 1880-1905 dari perkawinannya dengan Ngasirah. Pasangan ini memiliki delapan anak.

Sosrokartono sering berpuasa. Jika tak berpuasa, ia jarang makan. Meski separuh lumpuh, ia masih menerima ratusan tamu yang datang dengan berbagai kepentingan, mulai dari sekadar meminta nasihat, belajar bahasa asing, hingga mengobati berbagai macam penyakit.

Pada setiap pengobatan, Kartono biasanya memberikan air putih dan secarik kertas bertulisan huruf Alif kepada pasien. Nasihat Eyang Sosro antara lain “Sugih tanpa banda / Digdaya tanpa aji / Nglurug tanpa bala / Menang tanpa ngasorake” (Kaya tanpa harta/ Sakti tanpa azimat/ Menyerbu tanpa pasukan/ Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan).

Selama 29 tahun, Sosrokartono lebih dikenal sebagai seorang intelektual yang disegani di Eropa. Ia kerap dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins (Pangeran dari Tanah Jawa) atau De Mooie Sos (Sos yang Tampan). Ia mengembara ke beberapa negara, kemudian menjadi wartawan perang. Ia juga pernah menjadi staf Kedutaan Besar Prancis di Den Haag, bahkan sempat menjadi penerjemah untuk Liga Bangsa-Bangsa.

Setelah melanglang Eropa sejak 1897, pangeran tampan dari tanah Jawa itu pun pulang. Ia ingin mendirikan sekolah sebagaimana dicita-citakan mendiang adiknya, Kartini. Ia juga ingin mendirikan perpustakaan.

Kartono kemudian menggalang dukungan dari kelompok pergerakan di Indonesia. Ia menemui Ki Hajar Dewantara. Bapak pendidikan itu lalu mempersilakan Kartono membangun perpustakaan di gedung Taman Siswa Bandung. Ia pun diangkat menjadi kepala Sekolah Menengah Nasional di kota ini.

Pada saat yang bersamaan, ia menyaksikan orang-orang kelaparan dan diserang berbagai macam penyakit. Kartono pun kemudian menjalankan laku puasa bertahun-tahun untuk merasakan apa yang juga diderita saudara-saudaranya. Ia juga menjadikan Darussalam sebagai rumah pengobatan.

Separuh badan Kartono lumpuh sejak 1942. Kartono mangkat pada 1952, tanpa meninggalkan istri dan anak. Ia dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah. Di sebelah kiri makam Kartono terdapat makam ibunya Nyai Ngasirah dan bapaknya RMA Sosroningrat.

Di dinding pagar besi di makam Kartono, terpasang tulisan huruf Alif dalam bingkai kaca seukuran 10R. Di bawahnya terdapat foto Kartono mengenakan setelan jas ala orang Barat. Di nisan sebelah kiri, tercantum kata- kata terpilih Kartono: Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji. Di nisan sebelah kanan tercantum kalimat: Trimah mawi pasrah(rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).

Dalam beberapa tulisannya yang berisikan nasehat hidup, dia sering menggunakan nama Mandor Klungsu (Mandor Biji Asam Jawa) atau Joko Pring. Nama yang terakhir mungkin menunjukkan bahwa dia tidak menikah. Laku puasa, berdiam diri di ruang khusus, atau berdiri berjam-jam di malam hari merupakan wajah mistik RMP. Sosrokartono. Sampai sekarang masih banyak yang meneladani laku dan sikap hidup Pangeran dari Tanah Jawa ini. Bahkan ada yang mendirikan Yayasan Sosrokartono, untuk mengenang dan mendedikasikan gerakannya untuk Pribadi yang mulia ini. (dari berbagai sumber internet)

Selasa, 28 Oktober 2008

TASAWUF TEORI DAN TASAWUF PRAKTEK

Sungguh banyak literatur yang membahas dunia tasawuf. Mulai dari asal muasal kata, sejarah pemunculannya, tokoh-tokoh, filsafatnya maupun pelajarann kerohaniannya. Untuk mengerti tasawuf kita bisa membaca literatur tersebut. Apalagi sekarang ini banyak buku-buku yang mengulas hal tersebut dalam bahasa Indonesia. Sedikit banyak kita akan bisa mengerti hal ihwal tasawuf tanpa pusing-pusing belajar bahasa negeri Arab, Persi, Urdhu dan sebagainya.
Buku adalah sumber ilmu dan pembuka cakrawala wacana. Dengan membaca buku-buku tasawuf wacana kita pada dunia sufi akan semakin terbuka. Terlepas dari pro dan kontra tentang dunia tasawuf. Pertentangan antara ahli fiqh dan ahli tasawuf. (menurut saya pertententangan itu sudah usang). Toh ada juga tokoh yang memilih jalan tengah, seperti Al Ghozali yang dalam perjalanan kerohaniannya, menulis Ihya Ulumudin, sebuah karya yang mendamaikan. Kemudian di Indonesia ada Buya Hamka yang menulis Tasawuf Modern, ada Jalaludin Rahmad.
Buku-buku karya para ahli tasawuf itu akan membuka wacana kita tentang dunia rohani. Kita akan jumpai pernik-pernik kisah, nasehat kerohanian dan filsafat ketuhanan. Buku-buku tersebut akan memberikan kita gambaran yang jelas. Namun, untuk mendalami tentunya tidak bisa melalui buku-buku yang hanya bercerita, dan berfilsafat. Untuk praktek menjadi seorang sufi tentunya tidak lantas cukup membaca buku. Namun buku-buku tersebut sudah cukup memberi wacana yang kaya terhadap kita tentang dunia tasawuf atau kesufian. Dengan buku-buku tersebut kita sudah bisa menjadi ahli tasawuf. (artinya: mempunyai wacana yang luas tentang dunia tasawuf atu sufi).
Untuk menjadi seorang sufi yang perlu dilakukan adalah berguru kepada seorang sufi yang Mursyid. Yang mampu membimbing seorang sufi menjalani maqomad-maqomad kerohanian sampai akhirnya mampu menghadap Allah. Hanya sufi yang telah mencapai maqom mursyid yang mampu membimbing seorang sufi lain. Menjadi sufi adalah berarti mengambil jalan (bersuluk) menuju hakikat ibadah kepada Allah. Menjadi sufi adalah menempa lahir dan batin untuk bersiap menghadap Allah. Ilahi anta maqsudi wa ridhoka matlubi, a'tini mahabataka wa biqurbika wa ma'rifataka...itu doa seorang sufi...Ya Allah Engkaulah yang aku tuju, ridhomu yang aku mohon, aku mengharap cintamu, dan kedekatan kepadamu, dan ma'rifat kepadamu.

Senin, 20 Oktober 2008

AKIBAT GAPTEK DAN TIDAK TELITI

Tadi sedang mengutak-atik tampilan blog. Klik sana klik sini. Eh...ternyata hilang deh beberapa bagian dari blogku. Sungai kata-kata tempat pesan-pesan pendek dari teman dan pengunjung hilang. Beberapa link blog teman ikut hilang. Yaa..mohon maklum, gaptek (gagap teknologi) he he :)

Minggu, 19 Oktober 2008

SYARIAT, THARIQAT DAN HAKEKAT

Syariat itu bagaikan perahu
Thariqat bagaikan lautan
Hakikat itu mutiara yang sangat mahal harganya

Begitulah secuplik syair dari Syaikh Zainuddin Al Malabari ( kalau keliru mohon dikoreksi, kalau ada data yang lebih akurat boleh dong di share :-) ), yang membicarakan bahwa syariat, thariqat, dan hakekat bukanlah hal yang terpisah-pisah. Perahu, laut dan mutiara adalah sebuah jalinan yang tak terpisahkan. Perahu tanpa lautan tiadalah berguna. Lautan tanpa mutiara hanyalah air yang bergelora. Nilai semuanya adalah mutiara yang mahal harganya. Untuk memperoleh mutiara seorang harus naik perahu ke tengah laut dan menyelam ke dasarnya. Itulah tasawuf.

Tasawuf adalah pengamalan syariat dengan berthariqat sampai kemudian memperoleh hakikat. Karena, syariat tanpa hakikat adalah kosong, hakikat tanpa syariat adalah batal. Pelaksanaan dalam bentuk amal dan ibadah adalah thariqat. Dengan thariqat, ibadah itu ada ilmunya, menggunakan metode sehingga ibadah itu tidak asal ibadah. Dengan berthariqat, ibadah menjadi lebih tertata. Kemudian dalam berthariqat ada metode latihan ruhaniah dengan dibimbing oleh seorang guru ruhani. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai hakikatnya ibadah. Hakekat ibadah adalah ihsan. Ihsan itu ma'rifat kepada Allah. Secara sederhana dikatakan, beribadah seakan-akan berbicara langsung atau melihat Allah. Ihsan itu hadirnya hati kepada Allah semata.